Lebih Hemat Pajak Mana

Lebih Hemat Pajak Mana? PT atau CV?

Lebih Hemat Pajak Mana? PT atau CV? Saat hendak mendirikan usaha berbentuk badan, para pelaku usaha kerap mempertimbangkan banyak hal sebagai dasar memilih bentuk usaha yang tepat, pilihannya biasanya ada dua: PT atau CV. Setiap pertimbangkan membawa trade off masing- masing, termasuk aspek perpajakannya. Karena bagaimanapun juga dalam dunia usaha, penghematan beban pajak tanpa menyalahi aturan adalah sebuah strategi yang sebaiknya disiapkan sejak dini, diantaranya adalah dengan menetapkan bentuk usaha yang tepat. Artikel ini akan membahas secara teknis konsekuensi perpajakan dari badan usaha yang berbentuk PT dan CV sehingga pembaca dapat memutuskan pilihan yang tepat sesuai dengan pertimbangan masing- masing.

Baca Juga : Gaji PNS 2017, Rincian Gaji Pokok dan Tunjungannya

Karakteristik PT (Naamloze Vennotschap)

PT (Perseroan Terbatas) secara lepas dan sederhana diartikan sebagai bentuk usaha berbadan hukum yang kepemilikannya diwakili dalam bentuk sertifikat saham yang dimiliki oleh pihak lain (Badan atau Orang Pribadi). Semakin banyak suatu pihak memiliki lembaran saham makin banyak pula proporsi kepemilikannya didalam PT tersebut, kepemilikan sebuah PT dapat diperjualbelikan dengan cara menjual lembaran- lembaran saham sehingga perubahan kepemilikan dapat dilakukan tanpa harus membubarkan PT itu sendiri. Baca Lengkap Pengertian Tentang Perseroan Terbatas PT.

Karakteristik CV (Commanditaire Vennotschap)

CV (Persekutuan Komanditer) dapat diartikan secara bebas sebagai bentuk usaha yang didirikan satu orang atau lebih (sekutu pasif) dengan mempercayakan uang/ barang sebagai modal kepada satu/ beberapa orang lainnya yang dipercaya untuk menjalankan usaha dan bertindak selaku pemimpin (sekutu aktif). Bentuk usaha berupa CV jamak digunakan oleh pengusaha kecil dan menengah (UKM). Baca Lengkap Pengertian Tentang Persekutuan Komanditer CV.

Perencanaan Pajak atas CV dan PT

Dari sudut pandang pajak, CV dan PT merupakan Subjak Pajak Dalam Negeri yang berbentuk Badan. Karena definisi badan dalam pasal 2 ayat (1) huruf b UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan telah dengan tegas menyebutkan bahwa “Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer….”. Penghasilan yang diperoleh CV atau PT merupakan Objek Pajak baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan CV atau PT yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa pun. Lantas bagaimanakah teknis perpajakan CV atau PT? Sama atau berbeda? Mengingat karakteristik antara keduanya yang berbeda sebagaimana dijelaskan diatas.

Perencanaan Pajak (Tax Planning) didefinisikan sebagai proses mengorganisasi usaha wajib pajak atau kelompok wajib pajak sedemikian rupa sehingga hutang pajaknya baik pajak penghasilan maupun pajak-pajak lainnya berada dalam posisi yang minimal, sepanjang hal ini dimungkinkan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Mangonting, 1999). Tujuan dari tax planning seperti diutarakan oleh James W. Pratt, Jane O. Burns dan William N. Kulsrud dalam buku Individual Taxation 1989 Edition (1989 : 1-37) adalah : the obvious goal of most tax planning is the minimization of the amount that a person or other entity must transfer to the government.

Pajak PT atau CV

Gambar diatas menjelaskan strategi dalam meminimalkan jumlah beban pajak yang harus ditanggung Wajib Pajak. Tax Planning adalah unsur dari Pengelakan Pajak (Tax Avoidance). Jadi Perencanaan Pajak bukan suatu hal yang menentang/ melawan ketentuan perpajakan, melainkan dilakukan dengan cara memanfaatkan kebijakan yang sudah ada (tax avoidance) hal ini berbeda apabila dilakukan dengan cara melawan ketentuan yang berlaku sehingga dapat diancam dengan tuntutan pidana dibidang perpajakan (tax evasion). Meskipun keduanya berpotensi merugikan penerimaan negara dari sektor perpajakan, tetapi tax avoidance adalah konsekuensi logis yang muncul dari setiap kebijakan perpajakan yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak, sebab sudah menjadi dorongan naluriah Wajib Pajak untuk efisien dalam menjalankan usaha/ bisnis. Tax Planning dapat dilakukan sejak awal pendirian usaha, yaitu dengan mempertimbangkan pilihan bentuk usaha.

Pada dasarnya tarif yang ditetapkan atas penghasilan yang diterima oleh CV atau PT sama, yaitu tergantung besaran omset yang diperoleh, sebagaimana dijelaskan melalui skema sebagai berikut:

Tarif Pajak CV dan PT

Perencanaan Pajak Bentuk PT

Bentuk usaha berupa PT, sifat dasarnya adalah pemisahan kekayaan perusahaan dengan pemilik, sehingga terdapat potensi pengenaan pajak berganda ditiap pihak yang menerima penghasilan, dimana penghasilan bagi perusahaan dikenai pajak (PPh Pasal 25/29) begitu pula atas bagian keuntungan (dividen) yang dibagikan ke pemilik (badan/ perseorangan) juga dikenai pajak (PPh Pasal 23/ PPh Final Pasal 4 Ayat 2), termasuk gaji yang dibayarkan kepada manajemen juga dikenai pajak (PPh Pasal 21). Oleh karena itu dalam menentukan penghasilan netto fiskal pada PT boleh membebankan biaya gaji sebagai pengurang laba bruto.

Terkait modal, jika modal yang dimiliki PT bersumber dari pinjaman pihak ketiga yang mengakibatkan munculnya kewajiban membayar bunga, maka biaya bunga tersebut dapat dibebankan sebagai biaya pengurang laba bruto, namun perlu diperhatikan penjelasan Pasal 4 Ayat (1) Huruf g UU Nomor 36 Tahun 2008 bahwa jika modal tersebut berasal dari pemegang saham yang sebelumnya telah menyetorkan penuh sahamnya, maka modal tersebut diperlakukan sebagai pinjaman dari pemegang saham. Tetapi bila biaya bunga yang dibayarkan PT kepada pemegang saham tersebut melebihi tingkat kewajaran bunga yang berlaku dipasar maka selisih lebihnya diperlakukan sebagai Dividen Terselubung (PPh Pasal 23) dan tidak boleh dikurangkan dari laba bruto.

Dalam hal PT memiliki sumber penghasilan berupa dividen atas penyertaan modalnya (capital gain) kepada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia bukan termasuk Objek Pajak Penghasilan sepanjang nilai penyertaan modal yang diberikan kepada badan usaha tersebut sekurang- kurangnya 25% dari nilai modal yang disetorkan. Hal ini merupakan ketentuan Pasal 4 Ayat (3) Huruf f UU Nomor 36 Tahun 2008. Secara sederhana aspek dasar perpajakan PT yang harus dipertimbangkan dalam kaitannya dengan tax planning adalah sebagai berikut:

Tax Planning

Perencanaan Pajak Bentuk CV

Berbeda dengan CV, aspek dasar perpajakan bagi CV dapat dikatakan lebih sederhana, sebab pada dasarnya CV merupakan pengembangan usaha kemitraan/ perseroangan. CV bukan merupakan badan hukum, kekayaan atau aset suatu CV merujuk kepada aset atau kekayaan yang dimiliki pendirinya. Sehingga laba atas suatu CV yang diterima pada akhir tahun hanya akan dikenai pajak satu kali saja (PPh Pasal 25/29) sementara atas bagian laba yang diberikan kepada pemilik tidak dikenai pajak dan termasuk non objek PPh sebagaimana telah ditetapkan didalam Pasal 4 Ayat (3) huruf i UU Nomor 36 Tahun 2008.

Konsekuensi logis atas penghasilan yang diterima oleh manajemen sebuah CV adalah tidak dianggap sebagai gaji, karena secara hukum mereka tidak menerima gaji dari CV melainkan hanya berupa bagian laba, sehingga gaji yang dibayarkan pada manajemen sebuah CV tidak boleh dibebankan sebagai biaya sebagaimana disebutkan didalam Pasal 9 Ayat (1) huruf j UU Nomor 36 Tahun 2008.

Terkait modal pada CV, besaran nilainya sangat tergantung pada nilai yang disetorkan oleh sekutu komplementer (pasif) sehingga kekurangan modal yang terjadi jika sudah tidak memungkinkan dapat berasal dari pihak ketiga. Konsekuensi yang muncul berupa pembayaran bunga secara periodik merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari laba bruto, namun yang perlu diperhatikan adalah jika pihak pemberi pinjaman merupakan pihak yang memiliki hubungan istimewa dan besaran nilai yang dibayarkan melebihi jumlah biaya bunga wajar, maka selisih lebihnya tidak boleh dikurangkan untuk menghitung penghasilan netto sebagaimana telah disebutkan didalam Pasal 9 Ayat (1) huruf f UU Nomor 36 Tahun 2008. Atas hal semacam ini maka selisih lebih tersebut termasuk dalam definisi Dividen yang diatur dalam penjelasan Pasal 4 Ayat (1) huruf g angka 1 yaitu: pembagian laba baik secara langsung ataupun tidak langsung, dengan nama dan dalam bentuk apapun.

Berbeda dengan PT, dalam hal CV menerima dividen atau bagian laba dari dana yang ditanamkan di badan usaha yang berkedudukan di Indonesia, maka penghasilan berupa dividen atau bagian laba tersebut termasuk Objek Pajak Penghasilan yang dikenai PPh Final Pasal 4 Ayat (2) sebesar 10% (cfm PP Nomor 19 Tahun 2009 dan PMK-110/PMK.03/2010) bila penerimanya adalah Orang Pribadi atau PPh Pasal 23 sebesar 15% bila penerimanya adalah Badan tanpa melihat besaran penyertaanya. Secara sederhana aspek dasar perpajakan CV yang harus dipertimbangkan dalam kaitannya dengan tax planning adalah sebagai berikut:

Tax Planning Cv

Dari gambaran singkat mengenai aspek dasar perpajakan baik untuk PT dan CV, untuk melakukan tax planning yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sudah menjadi lebih mudah untuk dianalisis.

Simulasi Perhitungan Beban Pajak

Berikut disajikan ilustrasi perhitungan pajak untuk CV dan PT untuk melihat beban pajak yang timbul dan mengidentifikasi kemungkinan hasil tax planning yang lebih efisien. Dalam contoh ini disebutkan sebuah Perusahan ABC bergerak disektor jasa dengan rincian omset dan biaya tahun 2014 sebagai berikut:

Simulasi Perhitungan Pajak

  • Catatan:
    Perusahaan ABC pada Desember 2014 menerima dividen senilai Rp250.000.000,- atas kepemilikan saham di PT DEF dengan nilai penyertaan 17% dan menerima dividen senilai Rp180.000.000,- atas kepemilikan saham di PT JKL dengan nilai penyertaan 27%
  • Perusahaan ABC pada Desember 2014 juga menerima bagian laba dari CV GHI sebesar Rp100.000.000 atas penyertaan modal sebesar 10%.
  • Perusahaan menanggung PPh 21 atas Gaji Direktur yang diberikan
  • 40% dari Net Income After Tax (NIAT) akan dibagikan kepada pemegang saham (perseroangan) sebagai dividen/ bagian laba untuk pemilik

Perhitungan Pajak

Perhitungan Gaji Netto Direktur

Perhitungan Gaji Netto Direktur

Perhitungan PPh 23 atas Dividen/ Bagian Laba:

Perhitungan PPh 23 Atas Deviden

Perhitungan PPh 23 atas Capital Gain:

Perhitungan PPh 23 Atas Capital Gain

Perhitungan Beban Pajak Akumulatif

Perhitungan Beban Pajak Akumulatif





Dari analisis diatas dapat kita lihat bahwa CTTOR CV lebih rendah sebesar 1,10% dari pada PT, hal ini berarti apabila dengan aktivitas bisnis yang sama dan sumber pendapatan yang sama pula, bentuk usaha berupa CV dapat menawarkan penghematan pajak sebesar Rp821.400.000,- (1,10% dari omset senilai Rp75.000.000.000,-). Sementara jika perusahaan hanya mendapat penghasilan dari operasional bisnis saja tanpa capital gain maka dengan memilih bentuk usaha CV penghematan dapat ditekan hingga 1,07% daripada bentuk usaha berupa PT.

Lebih Hemat Pajak Mana? (Kesimpulan)

Memilih bentuk usaha baik itu CV atau PT merupakan salah satu pertimbangan yang sejak dini seharusnya dipikirkan sebelum menjalankan kegiatan usaha. Karaktertistik keduanya berbeda sehingga menimbulkan teknis dan tata cara yang berbeda pula. Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa badan usaha berbentuk CV memiliki tingkat efisiensi/ penghematan pajak lebih tinggi daripada PT, hal ini dikarenakan bentuk CV memiliki struktur yang lebih sederhana dan tidak adanya pemisahan antara kekayaan pemilik dengan CV itu sendiri, sehingga atas kegiatan bisnis yang dilakukan CV masih dianggap satu kegiatan yang dijalankan oleh pemilik. Berbeda dengan PT yang sudah menjadi sebuah dasar hukum.

Sebuah PT memiliki struktur yang lebih kompleks dan status kepemilikan yang fleksibel serta usia operasionalnya yang dapat melebihi usia dari pendirinya sendiri. Memutuskan bentuk usaha yang dipilih adalah penting dalam rangka melakukan efisiensi beban pajak yang muncul dikemudian hari. Namun demikian, bentuk usaha bukanlah satu- satunya dasar pertimbangan. Sebab meskipun disadari bahwa beban pajak sebuah PT lebih besar daripada sebuah CV, beberapa pengusaha lebih memilih mendirikan PT dibandingkan CV. Artinya, ada keunggulan lainnya yang patut dipertimbangkan selain efisiensi pajak.

Ditulis oleh : Erikson Wijaya | Aparatur Sipil Negara Direktorat Jenderal Pajak

Lebih Hemat Pajak Mana? PT atau CV?

Related Posts

4 thoughts on “Lebih Hemat Pajak Mana? PT atau CV?

  1. pachira Reply

    Terima kasih pak atas informasi perpajakannya semoga bermaaf bagi semua pembacanya

  2. Imam Reply

    Kalo deviden setiap tahunnya 250jt lebih baik pt atau cv dan perhitungannya seperti apa thanks

Tinggalkan Komentar / Pertanyaan